Donggala,Portalsulawesi.Id- Ratusan warga desa Loli Oge Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala kompak mengepung kantor desa, mereka menuntut agar pemerintah kabupaten Donggala melalui kepala desa Loli Oge untuk tidak melanjutkan proses operasional empat perusahaan galian C yang baru terbit izinnya.
Dengan membawa spanduk besar berisikan tuntutan penolakan warga , lima perwakilan masyarakat bergantian orasi dihadapan kepala desa dengan perangkatnya, Selasa ( 02/12/2025) sekira pukul 09.00 WITA.
Dalam tuntutannya ,warga Loli Oge yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Desa Loli Oge mendesak pemerintah desa Loli Oge agar merealisasikan 10 tuntutan warga. Aksi massa kali ini merupakan akumulasi kekecewaan warga atas sikap pemerintah desa yang terkesan “pro” dengan kehadiran perusahaan. Galian C yang izinya baru terbit dengan luasan puluhan hektar.
10 poin tuntutan warga desa Loli Oge adalah sebagai berikut:
- Menolak operasi perusahaan tambang galian C baru
- Masyarakat menuntut realisasi janji kades sesuai Visi Misi bahwa menolak perusahaan tambang galian C baru.
- Mendesak pemerintah Kabupaten Donggala untuk menghentikan aktivitas perusahaan tambang yang baru.
- Mendesak Gubernur Sulteng untuk mencabut permanen izin perusahaan yang melanggar dan tidak sesuai prosedural.
- Warga masyarakat dan pemilik lahan sepakat menolak rencana aktivitas perusahaan sesuai kesepakatan saat sosialisasi.
- Mendesak kepala desa untuk menyampaikan dan menjelaskan realisasi penggunaan dana CSR selama ini.
- Bahwa selama ini semua sosialisasi tidak ada hasil yang disepakati tentang perusahaan baru .
- Kondisi lingkungan saat ini sudah sangat tercemar dan sangat membahayakan kesehatan.
- Mendesak pemerintah Kabupaten Donggala untuk mengusut kasus mafia tanah.
- Lokasi yang dicaplok oleh perusahaan sudah memasuki wilayah hutan lindung dan pemukiman warga sehingga akan membuat jalan Houling ditengah pemukiman warga, olehnya kami seluruh warga menolak kehadiran perusahaan baru.
Selain menyampaikan 10 tuntutan warga tersebut, Aliansi Masyakarat Desa Loli Oge merilis luasan lahan perusahaan galian C baru diantaranya PT Wadi Alaini Membangun (19.12 Ha), PT Asia Amanah Mandiri ( 10,47 Ha), PT Central Multi Mineral ( 34,7 Ha) serta PT Berkah Batuan Intan loli ( 26,74 Ha).
Aksi massa Demo menolak tambang galian C baru tersebut dikoordinir oleh Nuryanti , sementara itu ada empat perwakilan warga yakni Haris, Syam,Asmin dan Dul.
Kepala Desa Loli Oge ,Gatot menerima aspirasi warganya dengan kesepakatan bahwa semua tuntutan warga akan dilaksanakan. Kepada massa demo,Gatot berjanji akan mengawal dan mencarikan solusi atas semua keluh kesah dan aspirasi warganya tersebut.

” Poin poin kesepakatan di berita acara ini akan kita tandatangani bersama, lima perwakilan masyarakat harus bertanda tangan sebagai saksi ,jika kita telah sepakat akan print perbanyak umtuk disebarkan ke masyarakat ” Janji Gatot dihadapan massa aksi dengan menggunakan megaphone.
Sontak masyarakat meneriaki dengan nada tegas bahwa pasca berita acara kesepakatan tersebut ditanda tangani,tidak ada lagi sosialisasi terhadap rencana pembukaan tambang galian yang baru. ” Tidak ada lagi sosialisasi tambang galian C yang baru ” teriak masyakarat.
Aliansi Masyarakat Desa Loli Oge juga meminta agar pasca aksi demo ini,masyakarat jangan ada yang di intimidasi oleh aparat desa, karena bisa berdampak pada permasalahan baru.
” Satu lagi pak kades, selesai aksi demo ini jangan ada intimidasi masyakarat disini, biasa diancam ancam ,kalo sampai terjadi kita akan lawan ” ungkap salah satu warga.
Menyikapi hal tersebut, Gatot selaku kepala desa menyarankan agar masyarakat mengadukan persoalan ini dengan bukti bukti . ” Kalo ada tindakan tindakan seperti itu,laporkan sesuai dengan bukti ,harus disertai dengan bukti , kalo terbukti saya atau aparat desa melakukan tekanan atau intimidasi ,laporkan disertai dengan bukti ,karena negara kita negara hukum ,negara kita negara demokrasi ,aksi seperti ini adalah bagian dari demokrasi ,sekian dan terima kasih ” tutup Gatot dihadapan masyarakat yang hadir.
Aksi warga yang bergabung dalam Aliansi Masyarakat desa Loli Oge dipicu kekhawatiran atas ancaman banjir,tanah longsor dan pencemaran lingkungan yang mengancam keberlangsungan tata kehidupan didesa yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Watusampu Kota Palu tersebut. Hujan lebat seminggu belakangan ini telah membuat pemukiman warga dan jalan trans Palu -Donggal terendam banjir dan sedimentasi material tambang, kondisi ini memicu keprihatinan warga atas bahaya erosi dan deforestasi lahan.
Aksi unjuk rasa yang berlangsung kondusif didepan kantor desa Loli Oge dikawal aparat kepolisian baik dari Polsek Banawa dengan Polres Donggala, peserta aksi tampak teratur menyampaikan aspirasi tanpa membuat pengguna jalan trans Palu -Donggala terganggu.***
Pewarta : Heru











