Palu, Portalsulawesi.Id – Pencitraan yang luar biasa lewat media baik media mainstream maupun media sosial, keberhasilan pemerintahan Gubernur -Wakil Gubernur Sulteng, Anwar Hafid- Reny Lamadjido terus digaungkan. Bahkan, jelang 100 hari pemerintahan Anwar Hafid – Reny Lamadjido telah diklaim menunjukan angka kepuasan masyarakat diatas rata rata.
Sembilan program Utama BERANI terus digembar gemborkan, disampaikan berulang semacam pesan pengingat bahwa pemerintahan saat ini serius mengurusi rakyatnya. Sepintas iya,tetapi mari kita buka sisi lain dari pelaksanaan program BERANI Anwar Hafid- Reny Lamadjido dilapangan.
Kita mulai dari BERANI Sehat, program berobat gratis cukup dengan modal KTP bagi warga Sulteng merupakan salah satu program unggulan Anwar Hafid- Reny Lamadjido. Sayangnya, masih banyak warga yang mendiami wilayah pelosok Sulteng yang belum memiliki KTP. Dengan begitu, kendala administrasi kependudukan menjadi satu masalah yang akan timbul disaat masyarakat miskin tanpa KTP mau berobat.
Ditambah lagi kondisi masyarakat yang jauh dari sarana kesehatan pemerintah juga menjadi kendala, kondisi jalan dan alat transportasi yang sangat tidak memadai menambah cerita pilu warga pelosok takkala sakit mendera.
Janji Anwar Hafid- Reny Lamadjido untuk memperbaiki infrastruktur jalan saat kampanye dulu mulai ditagih warga, dukungan telah diberi tinggal menunggu janji ditunaikan sang pemenang kontestasi Pilgub Sulteng 2024.
” Waktu kampanye,nakava ante kami berjanji rapakabelo dalata, nompenemo majadi gubernur, da’nitorana kami risi? ” ( Waktu Kampanye, datang dengan kami disini, berjanji memperbaiki jalan kami, sudah naik jadi gubernur apakah dia ingat kami disini? ) Ungkap Mangge adiman, warga dari pelosok kecamatan Pinembani,Kabupaten Donggala , Rabu ( 27/05/2025) kepada media ini.
Senada dengan curhatan Mangge Adiman, Sukri (48), warga yang mengaku berdomisili di kecamatan Tanambulawa mengeluhkan akses jalan Palu- Pakuli yang menurutnya telah rusak parah. Kondisi badan jalan yang bergelombang, penuh retakan dan kubangan mengancam keselamatan pengguna jalan. Kondisi diperparah dengan badan jalan yang sempit dan padat dilalui kendaraan. Sebagai jalan Propinsi, ruas jalan Palu- Kulawi menjadi salah satu jalan utama yang paling banyak dilintasi pengendara.
” Jalan Palu -Kulawi Rusak parah,apalagi disekitar Kalukubula, Maku,Sidondo bahkan Kalawara, nandasa kita kalo bawa kendaraan ,rawan celaka dan lubang sana sini ” keluhnya.
Sayangnya, kondisi jalan yang aksesnya sangat dekat dengan ibukota propinsi kondisinya sangat memprihatinkan. Memang ada ruas jalan yang mulus diantara ruas jalan yang rusak,tetapi itu adalah hasil kerja dari Balai Pelaksana Jalan Nasional wilayah Sulteng.
Kondisi jalan yang sama terjadi pada ruas Tomata – Pape, ruas jalan penghubung Kabupaten Poso dan Morowali Utara tersebut kondisinya sangat memprihatinkan. Jika kita melintasi ruas Tomata- Pape ,kita akan disajikan kubangan lumpur, patahan jalan hingga longsoran tebing yang sangat mengancam keselamatan pengguna jalan. Ruas ini juga menjadi tanggung jawab pemerintah Propinsi.
Kemudian, Ruas Tonusu- Pendolo, tepatnya di antara desa Tonusu-Salukaya -Meko hingga Taipa. Kondisi badan jalan yang menyempit dihiasi kubangan jalan serta bekas aspal yang lepas akan menyambut perjalanan kita jika melintas diruas ini, selain kondisi kendaraan harus Fit juga dibutuhkan kesabaran jika harus melintasi rute ini.
” Efesiensi anggaran berdampak kepada anggaran pemeliharaan jalan ” ujar Asbudianto, Kabid Jalan dan Jembatan pada Dinas Bina Marga dan Tataruang Propinsi Sulteng ,mewakili Faidul Keteng selaku kepala dinas.
Padahal, program BERANI LANCAR adalah salah satu program unggulan yang kerap disampaikan mantan Bupati Morowali dua periode tersebut. Kendala efesiensi anggaran selalu dijadikan alasan untuk belum memperbaiki ruas ruas jalan propinsi yang rusak, tetapi untuk kegiatan kunjungan dan perayaan tertentu Anwar -Reny rela merogoh kocek milyaran lewat orang-orang terdekatnya.
Implementasi program BERANI Cerdas juga disorot, Anwar- Reny juga menggaungkan agar semua anak usia sekolah warga Sulteng wajib mendapatkan pelayanan pendidikan memadai. Sekolah digratiskan,
Beasiswa di bagikan. Sayangnya, jauh dipulau terluar Sulteng, masih banyak anak yang pergi kesekolah dengan bertelanjang kaki. Bahkan untuk membeli buku sekolah harus rela mengail dilaut lepas , mereka bahkan tidak mendapatkan informasi tentang BERANI CERDAS karena keterbatasan ekonomi.
Hal yang sama juga dirasakan peserta didik dipelosok Kabupaten di Sulteng, mereka yang hidup di pegunungan ,desa terpencil dan terpencar bahkan dipulau pulau terluar masih bersekolah dengan modal semangat belajar tanpa ditunjang alat belajar yang memadai,belum lagi ditambah gedung sekolah yang nyaris roboh.
Tas dan buku sekolah serta alat tulis seadanya menjadi harta berharga para anak dipelosok dalam menimba ilmu, mereka terus giat belajar tanpa berharap kasihan dari pemerintah. Dana BOS yang menjadi haknya hilang entah kemana, mereka diam karena mereka tidak tau mau mengadu kemana .
Anak anak setamat SMP di enggan melanjutkan studi ke bangku SMA karena jarak sekolah jauh, minimnya akses jalan penghubung serta penghasilan orangtua yang masuk dalam kategori keluarga miskin. Mereka bukan saja hidup dibawah garis kemiskinan ditanah yang menurut data Nasional propinsinya sebagai penyumbang devisa negara ketiga terbesar, mereka cuma berharap suatu waktu pemerintah hadir untuk mereka seperti saat kampanye dulu.
Program BERANI CERDAS sepertinya hanya milik kaum Kota dan koleganya, mereka yang menuntut ilmu dipelosok cukup mendengarkan program tersebut tanpa tau kapan disentuh dan menikmati program itu.
Keluhan kaum termariginal di pelosok gunung dan pesisir pantai di Sulteng terus disuarakan, sayangnya erangan kaum susah tersebut tertutupi dengan pencitraan luar biasa oleh sang pemimpin melalui framing media yang dihasilkan para konten kreator yang disiapkan Anwar- Reny dalam setiap kunjungan kerjanya.
Anwar – Reny terus di elukan para pemuji yang berharap dapat posisi nyaman dipemerintahan pasangan NAMBASO ini, sayangnya sang pemimpin tampak ikut terlena dalam buaian Patende dan puji pujian kaum Hore Hore disekitarnya sehingga lupa akan janji janji kampanye yang telah ditebar.***
Penulis : Heru
