Dokar, Nasibmu kini

kuda dokar. Foto : Taufan/Portal Sulawesi

PALU, portalsulawesi.id – Transportasi atau angkutan merupakan salah satu alat penunjang untuk mendukung perkembangan suatu daerah. Dari tahun ke tahun moda transportasi terus berevolusi dan bertambah banyak, ruang tata kota pun seakan berubah menjadi banjir kendaraan yang tumpah ruah tanpa terkendali. Berbagai moda transportasi bermunculan, mulai dari motor, mobil, bus, angkot, ojek, dan transportasi tradisional lainnya.

Delman atau yang lebih di kenal dengan nama Dokar merupakan transportasi yang sudah ada sejak zaman dahulu.  Sebagian kalangan menyakini nama dokar berasal dari Bahasa Inggris dog car. Dokar sendiri merupakan kendaraan transportasi berupa kereta dengan dua buah roda yang ditarik oleh seekor kuda.

Di Sulawesi Tengah khususnya Kota Palu, keberadaan Dokar kian terpinggirkan, dokar saat ini hanya beroperasi pada beberapa titik saja di Kota Palu khususnya di wilayah Palu Barat. Dokar akan dominan terlihat di seputaran pasar masomba hingga wilayah Tatura Utara, Pasar Tua hingga Pasar Inpres Manonda.

Pak Yosep (62) salah seorang kusir dokar yang beroperasi di sekitaran Pasar Manonda mengungkapkan, bahwa penghasilannya terus menurun disetiap tahunnya, “Omset menurun, karena dokar telah kalah bersaing dengan kendaraan lain seperti becak, ojeg dan juga angkot”.

“Tarif ?, kami tidak patok harga. Paling jauh jarak 2 sampai 3 kilo biasanya penumpang membayar lima ribu rupiah tapi kadang ada juga yang membayar sepuluh ribu rupiah, tergantung kemanisan hati penumpang. Penumpangnya pun hanya mereka yang hobi naik dokar, atau ibu-ibu yang belanjaannya banyak dan rumahnya tidak terlalu jauh dari pasar” tuturnya.

Ia berharap kepada pemerintah daerah untuk memperhatikan nasib dokar. Bukan hanya untuk kepentingan ekonomi mereka para kusir dan keluarganya, tapi juga untuk melestarikan kendaraan tradisional ini. Bentuk perhatian bisa dengan menjadikan dokar kendaraan wisata berkeliling kota.

Masyarakat kebanyakan melihat dokar berkumpul dan banyak berseliweran dijalanan hanya pada saat digunakan untuk kegiatan-kegiatan pawai, atau hari-hari besar lainnya.

Pemerintah mestinya tidak tutup mata dengan semakin terpinggirnya kendaraan tradisional ini, padahal bila pemerintah mau serius untuk melestarikan dokar bisa dengan menjadikannya kendaraan wisata yang digunakan untuk berkeliling teluk palu. Jangan setelah dokar-dokar dikota palu mulai punah, baru akan dimunculkan wacana “Dokar” sebagai kendaraan wisata teluk palu.

Penulis : Taufan 

 

Exit mobile version