Palu,portalsulawesi.id- Kerusakan Drainase yang terjadi pada proyek Preservasi Ruas Jalan Nasional Batui-Toili-Baturube yang baru saja selesai dikerja tahun 2019 silam membuat sejumlah kalangan angkat bicara,salah satunya adalah KRAK Sulteng.
Lewat Koordinatornya,Koalisi Rakyat Anti Korupsi (KRAK) Sulteng,Abdul Salam Adam mengatakan bahwa kerusakan yang terjadi pada ruas jalan tersebut adalah bukti kualitas pekerjaan yang jauh dari standar dan diduga kuat merugikan negara.
Pasalnya,Kondisi Drainase yang hancur dibeberapa tempat pada ruas jalan tersebut terlihat jelas konstruksinya yang hancur,kehancuran bukan saja terjadi pada dinding saluran tetapi juga pada lantai kerja drainase.
“Jika.melihat data yang disajikan,kami menduga kuat telah terjadi sebuah pembiaran oleh pihak pengawas dalam hal ini PPK maupun Satker pada Ruas tersebut,sehingga Kualitas pekerjaan yamg dihasilkan amboradul,pasti penerapan metode kerja dilaksanakan asal asalan ” ujar Abdul Salam Kepada Portalsulawesi.
KRAK Sulteng bahkan meminta Aparat Hukum untuk turun tangan dalam memeriksa penyebab Hancurnya mortar pada draenase tersebut,kuat dugaan pihak pelaksana memakai bahan bahan yang kualitas rendah .
“Kejaksaan dan Kepolisian harusnya segera turun memeriksa hal ini,karena perusahaan pelaksana proyek ini merupakan perusahaan yang menjadi pemain tetap pada Proyek Rutin ruas Jalan Nasional tersebut,dugaan kami ada unsur kesengajaan untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak ” ujarnya.
KRAK Sulteng menduga ada penerapan metode kerja yang salah sehingga menghasilkan kualitas fisik pekerjaan yang amboradul,hal ini berdampak kepada kerugian negara.
“Jika melihat kondisi lapangan,dugaan kami material yang dipakai jauh dari mutu yang di isyaratkan dalam kontrak,cara kerja juga asal asalan sehingga menghasilkan kualitas pasangan mortal yang amboradul,anehnya Kondisi pekerjaan begitu di PHO oleh Balai,ada apa dengan Balai Jalan?” Kritiknya.
PPK .3.4 ,Endi Antoni kepada portalsulawesi membantah jika pekerjaan drainase yang hancur disebabkan oleh penggunaan material bermutu rendah,menurutnya kerusakan yang terjadi dikarenakan faktor Alam seperti curah hujan.
“Rusaknya pasangan mortal disana pak karena hujan yang menggerus Drainase itu,usia pasangan mortar yang harusnya 28 hari maksimalnya untuk bisa dialiri air justru dilanda hujan sehingga rusak,tetapi saat ini sementara diperbaiki kembali ” jelas Endi melalui sambungan Telepon Genggamnya ke redaksi portalsulawesi,Minggu (09/02/2020).
Akan tetapi,Selaku PPK,Endi tidak mampu menjawab ketika ditanyakan apakah pernyataannya itu didukung oleh bukti analisa cuaca yang dikeluarkan BMKG dibulan terakhir tahun 2019 saat Drainase itu mulai hancur.
Endi Antoni bahkan terkesan bingung saat ditanyakan kapan Drainase tersebut mulai dikerja dan kapan pihaknya mulai mengetahui pasangan mortal tersebut rusak dan hancur.
“Maaf pak,saya lupa kapan itu drainase mulai dikerja,saya kurang hapal datanya ” Kelit Endi Antoni mengakhiri percakapan dengan redaksi via telpon genggamnya.
Seperti diberitakan sebelumnya,Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah III pada Ruas Batui-Toili -Rata hingga Baturube Tahun 2019 silam medapatkan kucuran dana Preservasi senlai Rp.44 Milyar lebih.
Pihak Pemenang dan pelaksana proyek tersebut adalah PT Anuntalofu,perusahaan yang sama juga memenangkan Proyek Preservasi Ruas Bungku-Bahodopi hingga Batas Sultra Tahun 2019.
Sayangnya,dibeberapa titik kerja,pasangan mortar drainase sudah hancur berantakan,bahkan ada drainase yang tidak memiliki.lantai kerja, penggunaan material mutu rendah dan metode kerja yang salah diduga sebagai penyebab hancurnya drainase jalan nasional diruas tersebut.
Hasil penelusuran media ini,perusahaan PT Anuntalofu merupakan Perusahaan yang telah mengerjakan proyek yang sama tiap tahunnya dibeberapa ruas jalan Nasional diwilayah Sulteng tersebut. ***
Penulis :Tim

