Palu,Portalsulawesi,com– Salah satu sekolah yang Hancur terkena Guncangan Gempabumi dan Likuifaksi pada Jumad ,28 September 2018 silam adalah sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Palu,sekolah yang terletak di Jalan dewi sartika sebagian besar bangunannya terkena dampak langsung Likuifaksi dan Gempabumi,tumpukan rumah rumah warga yang terbawa hanyut oleh Tanah yang longsor terlihat jelas di halaman sekolah Agama Islam tersebut.
Pasca Bencana,Untuk melanjutkan proses belajar mengajar di Mtsn 3 Palu tersebut,pihak sekolah meminjam lokasi warga yang terletak dijalan Banteng Kelurahan Birobuli Utara,sebuah Lapangan Futsal warga dipinjam dijadikan Kelas darurat oleh pihak sekolah.
Menurut Munira labalado.S.Ag selaku Kepala sekolah,sebelum bencana melanda Kota palu,Sigi dan Donggala,Jumlah peserta didik kala itu 719 orang dengan 20 kelas. Tetapi ketika dilanda bencana dan sekolahnya luluh lantak diguncang gempa dan Likuifaksi,Jumlah Peserta didik yang terdeteksi baru sekitar 493 Peserta didik.
Dari catatan sekolah tersebut,ada 9 peserta didik yang telah dinyatakan meninggal dunia,131 orang Yang belum diketahui keberadaannya,dan 86 orang belajar ditempat lain alias pelajar titipan.
“data sementara Sembilan murid kami meninggal dunia akibat bencana alam tersebut,131 orang belum melapor keberadaanya dan 86 orang belajar ditempat lain sebagai murid titipan “ ujar Kepsek Mtsn 3 Palu sedih.

Saat ini,Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Palu ini belajar dengan Tiga Kelas gabungan,dimana Peserta didik pertingkatan digabung menjadi satu ,menempati satu Tenda Lapangan Bantuan Unicef serta dilapangan Futsal warga,bangku dan papan tulis seadanya adalah sisa dari sekolah mereka yang telah luluh lantak.
Bantuan yang diterima Pihak sekolah sejak terjadinya Bencana Gempabumi dan likuifaksi baru berupa dana dari Kementrian Agama senilai Rp.100 Juta rupiah,dana Tanggap darurat tersebut dipergunakan untuk membersihkan lapangan sekitar Futsal yang dipinjamkan warga.
“dana Tanggap darurat tersebut diperuntukan menggusur lokasi sekolah darurat kami dapat bantuan Alat berat dari PT Bukaka Poso Energy,untuk Truck pengangkut sisa material kami sewa ,selebihnya kami beli perlengkapan belajar mengajar siswa” Jelas Munira Labalado kepada Portalsulawesi,Kamis ,26 Oktober 2018.
Untuk mendapatkan Tenda bantuan dari Unicef,pihak Mtsn 3 Palu harus berusaha sendiri agar mendapatkannya,dikarenakan Kabarnya Kementrian Agama tidak punya MoU (Memorandum Of Understanding) dengan kemendikbud.
“dapat tenda ini saja kami harus berjibaku,karena dari Kemenag hanya kebagian 5 Tenda belajar bantuan Unicef,katanya karena Kemenag tidak ada MoU dengan kemendikdub ,menurut mereka yang di LPMP “ kata Kepala sekolah Mtsn 3 Palu tersebut.
Menurutnya,kebutuhan Tenda lapangan untuk Belajar mengajar sekitar 20 Tenda sesuai Jumlah Kelas yang ada,bahkan sekarang tingkat kehadiran peserta didik mencapai 60 persen.
“Siswa kami sudah hampir 60 persen hadir,semakin hari semakin banyak yang datang belajar kembali,kebutuhan mendasar adalah tenda belajar,baju seragam dan buku tulis,dikarenakan mayoritas siswa siswi saya berasal dari Kelurahan Petobo dan kabupaten Sigi ,mereka umumnya terkena Likuifaksi dan gempa bumi” katanya,

Kondisi Gedung sekolah secara keseluruhan sudah tidak layak pakai,11 Ruangan belajar mengajar,ruangan Aula,serta ruang UKS roboh total tertimbun tanah akibat Likuifaksi,sisanya retak dan lantainya terbelah menganga.
Harapanya selaku Kepala sekolah,Pemerintah Propinsi Sulawesi tengah maupun Pemerintah Kota dapat memperhatikan Keadaan sekolah dan peserta didik di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Palu tersebut,karena menurutnya kondisi mereka terkesan di abaikan oleh Pemerintah tersebut.
“Jangankan ditanya,ditengok dan datang kesekolah sini saja pemeritah Kota maupun Propinsi belum ada yang datang,padahal kami mengajar kebanyakan anak anak didik dari Kota Palu ,anak daerah ” Ujarnya kecewa.
“Seakan akan kami ini hanya milik Kemenag bukan milik pemerintah kota atau propinsi,kami merasa tersisih” Curhatnya.
Berbagai respon yang terjadi pasca terjadi bencana Gempa bumi dan likuifaksi yang meluluhlantakkan sekolah Mtsn 3 tersebut,di awal awal masuk sekolah kembali,banyak siswa yang Histeris dan trauma,bahkan ada orang tua siswa yang anaknya meninggal datang kesekolah untuk belajar bersama teman anaknya yang telah tiada tersebut.
“Ada orang tua siswa yang datang mau gantikan anaknya belajar disekolah,padahal anaknya telah meninggal dunia korban dari bencana tersebut,kasihan kami melihatnya” kata Kepala sekolah dan dibenarkan sejumlah Guru di Mtsn 3 Palu tersebut.
Ditemui tempat terpisah,Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Ansyar Sutiadi, S.Sos, M.Si mengatakan bahwa pemerintah kota bukan tidak peduli terhadap nasib peserta didik di Mtsn 3 Palu,akan tetapi kondisi pemerintah kota juga hanya mengandalkan bantuan dari kementrian pendididikan.
“mereka sudah mendapatkan tenda dari Unicef,kita semua hanya dapat bantuan dari pemerintah dan NGO,pemerintah kota Cuma dibantu oleh mereka,kita fokus kepada masyarakat,pendidikan ini dibantu oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan,Kemenag serta NGO “ Tegasnya.***
Laporan : Heru

