Beranda lingkungan Menguak Konspirasi Aparat dan Penambang di PETI Dongi-Dongi

Menguak Konspirasi Aparat dan Penambang di PETI Dongi-Dongi

1221
0
Aktifitas pemuatan jatah Kongsi di Pos Jaga Gabungan di Kayu Tiga dalam kawasan pertambangan Ilegal Dongi-Dongi (foto Kiri), serta surat Keputusan yang beredar di Kawasan Tambang dan ditandatangani oleh Pjs. Kepala Desa Sedoa, Reynald Lambert Pieter Kabi S.Sos. (Dok.Portalsulawesi)

Palu, Portalsulawesi.Id- Aktivitas warga di kawasan pertambangan emas Ilegal di Ngata Dongi-Dongi Desa Sedoa Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso terus menggeliat, penempatan aparat Kepolisian dari Polda Sulteng dan Polisi Kehutanan dari Balai Konservasi Taman Nasional Lore Lindu di lokasi yang konon telah dilarang untuk dikelola tidak berpengaruh sama sekali dalam upaya menghentikan praktek pengolahan emas Ilegal dikawasan tersebut.

Bahkan,kehadiran Aparat Gabungan dikawasan Konservasi tersebut menjadi sebuah rangkaian Konspirasi untuk bekerja sama dalam menikmati kemilau emas dari perut bumi Kawasan pertambangan Ilegal Dongi-Dongi.

Dalam penelusuran media ini, Kawasan pertambangan Ilegal di wilayah Konservasi Taman Nasional Lore Lindu beroperasi siang dan malam. Bahkan para penambang tampak dikawal aparat keamanan yang ditugaskan membersihkan areal tersebut dari aktivitas Pertambangan Ilegal tersebut.

“Pengawalan” Aparat Kepolisian di Kawasan Pertambangan Emas Ilegal di Dongi-Dongi bukan tanpa timbal balik, sejumlah kesepakatan tak tertulis berlaku di areal seluas kurang lebih 60 Hektar tersebut.

Dalam kawasan pertambangan Emas illegal tersebut,Kepolisian mendirikan dua Pos Penjagaan, Pos Utama berada di Pinggir jalan Propinsi Ruas Palolo- Napu pada Kilometer 86, sedangkan satu Pos lainnya berada di dekat kawasan areal Penambang .

Pos Kedua yang berada dalam Kawasan Lokasi Pertambangan sering disebut sebagai Pos Kayu Tiga, dilokasi ini Pos personil Kepolisian dari Polda Sulteng berdiri bersebelahan dengan Pos Polisi Kehutanan dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) yang juga tempat Mitra Polhut yakni Lembaga Adat Dusun Dongi-Dongi.

Dalam Prakteknya, para penambang yang akan beraktivitas dalam Kawasan diwajibkan melapor diri ke Pos Kepolisian pada Pos Dua Kayu Tiga, selanjutnya data penambang dicatat beserta data penangggung jawab lubang atau disebut kepala Kongsi.

Wajib Lapor Bagi Kongsi Penambang

Aktivitas penambang dimulai pada Sore Pukul 16.00, para pekerja dalam Kongsi Penambang mulai memasuki areal kerja dengan kewajiban melaporkan diri di Pos Dua kayu Tiga, ratusan orang berduyun duyun memasuki Kawasan pertambangan dengan membawa sejumlah alat kerja.

Tampak para penambang memikul Genset listrik yang berukuran sedang, membawa potongan papan serta Balok untuk kebutuhan pembuatan mal lubang tambang. “ Balok dan papan itu untuk Mal Pantongan dan rayapan ,fungsinya menahan tanah agar tidak longsor “ jelas Rian,  penambang asal kotamobagu saat ditemui dilokasi. Jumat (30/10/2020).

Genset merupakan peralatan utama bagi penambang, karena dengan adanya Genset kebutuhan listrik untuk menghidupkan Blower dan Pompa air dapat tercukupi. Karena dalam prakteknya pengambilan material mengandung emas dari perut bumi dilakukan dengan cara tradisional yakni membuat lubang kedalam tanah dengan capaian hingga puluhan meter, Blower adalah alat yang dipakai untuk menghasilkan angin dalam jumlah tertentu untuk menyuplai Oksigen kedalam lubang Tambang, sedangkan Pompa Air dipakai untuk menyedot rembesan air yang menggenangi lubang tambang didalam perut bumi.

“ Blower sama pompa Dap (pompa air.red) adalah napas penambang, kalo itu bermasalah maka ancaman kematian bagi anggota kongsi yang sedang bekerja dibawah ‘ jelas sumber yang identitasnya minta jangan dipublikasikan.

Aktivitas Penambangan Emas Siang Hari di Lokasi Eks PETI Dongi-Dongi,Aparat Diam ( Foto:Portalsulawesi)

Penambang Wajib Berbagi Dengan Aparat

Dalam prakteknya, para penambang setiap kelompoknya (Kongsi) diwajibkan melakukan setoran hasil pertambangan dengan metode bagi hasil, setiap 10 karung (koli) material bebatuan yang keluar dari lubang tambang wajib keluar 3-5 koli ke Pos jaga Kayu Tiga, jatah tersebut diduga kuat diperuntukkan untuk para petugas yang mendapatkan Sprint menjaga Kawasan tambang Ilegal tersebut.

Bahkan, saweran Koli penambang emas Ilegal dari Dongi-Dongi diduga menyasar para petinggi di Kepolisian dan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu serta Mitra Polhut.

Setiap Koli jatah petugas di Pos Dua Kayu Tiga ditampung di dalam Pos, setiap pukul 02.00 dini hari akan ada aktivitas pengangkutan Material Rep dalam Karung (koli) keluar area pertambangan , diluar kawasan tambang telah menanti mobil pengakut Material dengan tujuan  Kelurahan Poboya Kota Palu untuk diolah menjadi Emas.

Praktek pemuatan “jatah Koli “ dari Pos Dua kayu Tiga dikawal ketat aparat kepolisian berpakaian preman bersenjata lengkap, ojek yang ditugaskan mengakut karung karung material tersebut merupakan ojek yang telah dipercaya oleh aparat.

Hal ini tidak di pungkiri oleh Ipda arif selaku komandan Kompi perintis dari Polda Sulawesi Tengah saat ditemui di Pos penjagaan Utama di Kawasan pertambangan emas Ilegal Dongi-Dongi, menurutnya apa yang berlaku di Pos Dalam Kayu Tiga adalah bentuk partisipasi dari penambang kepada Anggotanya yang melaksanakan tugas disana.

“ wajarlah pak jika ada penambang yang memberikan kepada kami satu dua koli,itu tidak dipaksakan “ kilahnya, Sabtu (31/10/2020).

Saat ditanyakan terkait kabar adanya lubang tambang milik petinggi Polda bahkan Mabes Polri, Ipda Arif membantah, dirinya berkilah jika dirinya bahkan tidak mengetahui persis siapa semua pemilik lubang tambang disana.

“ada sekitar seratus lebih lubang tambang disana, kami tidak berdaya melarang mereka beraktivitas disana,kami disini hanya ditugaskan menjaga keamanan kawasan tambang tersebut “ jelasnya.

Padahal, didalam lingkup penambang dan Kongsi santer terdengar kabar jika jatah Koli yang dipungut dari setiap lubang produksi diperuntukkan untuk “setoran” kepada para petinggi di Kepolisian, baik dari Tingkat Polsek hingga Ke Polda.

Sementara itu, Kepala balai Taman Nasional Lore Lindu, Jusman mengakui bahwa praktek “ Jeruk makan Jeruk” benar adanya , dirinya tidak menampik adanya praktek suap menyuap dalam tim Gabungan yang ditugaskan menjaga lokasi Tambang emas Ilegal di Kawasan Dusun Dongi-Dongi. Tetapi dirinya membantah jika setoran hasil bagi bagi dari lubang tambang tersebut ada menetes kepadanya, keterbatasan jumlah aparat Polisi Kehutanan di BBTNLL merupakan salah satu kendala.

“tidak benar hasilnya ada menetes kekami, tetapi praktek jatah menjatah itu benar “ bantahnya.

“kami sebenarnya sudah koordinasi dengan petinggi Polda yang lama,Cuma ada pergeseran pimpinan makanya mau diagendakan kembali untuk mengevaluasi penanganan kegiatan pertambangan illegal di Dongidongi “ jelas Jusman kepada redaksi portalsulawesi,Minggu (01/11/2020).

Menurutnya,keterlibatan semua fihak sangat diperlukan untuk menuntaskan masalah di lokasi pertambangan emas dalam Kawasan Konservasi Taman Nasional Lore Lindu.

“ Kelihatannya memang harus ada evaluasi, saya tidak mau didepan seolah olah Taman Nasional bersih sendiri, tapi saya ingin bersama sama dengan institusi Kepolisian, TNI dan juga Pemerintah Daerah untuk mengatasi masalah di Dongi-Dongi “ Ungkapnya.

Jusman bahkan mengatakan bahwa Gubernur Sulawesi Tengah,Longki Djanggola terus memberikan dorongan untuk bagaimana menyelesaikan itu tidak sekedar tindakan represif.

“sejauh ini kawan kawan Reskrimsus Polda Sulteng juga terus bekerja,sedikitnya ada 30 Kasus yang ditangani Polda yang berhubungan dengan Tambang Dongi-Dongi” katanya. (BERSAMBUNG)***

Penulis : TIM Portalsulawesi

Editor : Syahrul