Sigi,portalsulawesi.id- Tubuh renta sibuk memotong batang batang padi yang tampak kemuning,dilahan pertanian yang tinggal sepetak usai digerus lumpur likuifaksi, tidak banyak lagi yang bisa dipanen lelaki tua buruh tani di Desa Jono Oge tersebut.
Tidak jauh dari petakan sawahnya yang tersisa,puluhan batang pohon kelapa tumbang bergelimpangan,tumpukan kayu sisa bangunan dan bau lumpur likuifaksi yang terjadi dua bulan silam masih menebar aroma khasnya, jarak Tanah sawah tempat Paulus Tundu (60) mengolah dengan Lokasi Likuifaksi hanya tersisa empat puluhmeter.
Lelaki asal Tanah Toraja yang kesehariannya berprofesi sebagai buruh tani terlihat pasrah dengan hasil panennya kali ini,dari sepetak tanah sawah milik orang yang diolahnya hanya tersisa sekitar dua karung gabah basah yang masih bercampur batang batang padi.
“padahal saya berharap panen padi tahun ini bisa saya pakai untuk perayaan Natal,tapi mau di apa,bencana ini Tuhan yang atur,saya hanya bisa pasrah “ Ungkapnya sambil menyeka bulir bulir keringat di tubuh rentanya memulai percakapannya dengan portalsulawesi,kamis sore, (29/11).
Menurut Paulus,saat Bencana melanda ,dirinya lagi berada di daerah kebon Kopi,Donggala, sementara emi (56) istrinya berada di rumahnya yang terletak tidak jauh dari lokasi Likuifaksi Jono Oge.
Dengan perasaan Khawatir dan penuh was was,dirinya memberanikan diri mencari sang istri di rumah mereka yang saat itu akses jalannya terbelah belah akibat Guncangan Gempa.
“Puji Tuhan,Istri saya selamat dari bencana mengerikan itu “ Ucapnya mengenang Kejadian Dua Bulan lalu tersebut.
Kini, Paulus dan Emi sang Istri,bingung mau bekerja apa ,Tanah warga yang diolahnya tidak dapat lagi dimanfaatkan dikarenakan Jaringan irigasi yang menyuplai air untuk pertanian rusak parah ,sementara dirinya harus menghidupi sang istri .
Menurut Prediksi Paulus,Jaringan Irigasi di desanya akan normal kembali sekitar 3 hingga 4 tahun kedepan, untuk itulah dirinya berencana mengajak sang istri untuk “Hijrah” ke Kebun Kopi untuk berkebun disana.
“Saya akan ke daerah kebun Kopi untuk berkebun,saya tidak mungkin terus berharap sama pemerintah untuk diberi bantuan,sampai kapan kita terus berharap kepada pemerintah?” katanya.
Rintik hujan mulai turun,Paulus Tundu bergegas melipat terpal tempat menampung gabah basah hasil panennya,tumpukan jerami ditata rapi di atas terpal coklat kusam agar air hujan tidak membasahi gabahnya, karung Goni yang belum terisi gabah di sisipnya di sela Tumpukan jerami yang telah mengering.
“Ini panen terakhir saya,biasanya kalo panen saya bagi dua dengan yang punya lahan,tapi kali ini yang punya lahan sudah mengikhlaskan sisa padi yang bisa dipanen ini menjadi bagian saya “ katanya sambil berlahan meninggalkan tanah persawahan .
“Saya tetap bersyukur kepada Tuhan masih diberi hidup,saya percaya Tuhan pasti punya rencana untuk saya dan semua warga Jono Oge yang terkena bencana,Mujizat itu pasti ada “ Ungkapnya sebelum berpisah.***
Penulis : Heru

