PALU, Portalsulawesi. Com – Pertambahan jumlah penduduk yang tumbuh tidak seimbang menjadi perhatian BKKBN untuk terus bekerja keras melakukan berbagai upaya dalam menekan laju pertumbuhan penduduk.
Dan sudah menjadi komitmen bagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Tengah ( Sulteng) melalui berbagai programnya sebagai wujud nyata dalam menekan angka laju pertumbuhan penduduk khususnya di daerah ini, antara lain dengan menekan angka kematian ibu (AKI) melahirkan dan angka kematian bayi (AKB).
Perwakilan BKKBN Sulteng, kata Abdullah Kemma, sudah memprogramkan 4 Terlalu yang meliputi Terlalu Muda (< 20 tahun), Terlalu Tua (> 35 tahun), Terlalu Dekat (jaraknya < 2 tahun) dan Terlalu Banyak (anaknya > 3 anak).
Program ini didesain untuk menekan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk di Sulawesi Tengah.
“Kalau dari Kemenkes ada program tiga terlambat. Kalau kami empat terlalu. Program ini supaya kita bisa menekan angka kematian ibu melahirkan. Mengingat negara kita ini khususnya Provinsi Sulawesi Tengah masih cukup tinggi angka kematian ibu (AKI) melahirkan. Demikian halnya dengan Angka Kematian Bayi (AKB), yang patut menjadi perhatian kita semua. Karena itu dibutuhkan peran serta masyarakat/para tokoh masyarakat (Toma) dan para tokoh agama (toga), untuk ambil bagian dalam memberikan dukungannya terhadap pemerintah dengan mensosialisasikan program 4 Terlalu ini ke masyarakat,” pungkas Abdullah Kemma melalui program penguatan kemitraan yang diselenggarakan oleh BKKBN Sulteng, beberapa hari lalu di Aula kantor BKKBN Sulteng.
“Ada 16 provinsi prioritas, Sulteng termasuk salah satu diantaranya dalam mendorong pencapaian program 4 Terlalu. Alasannya karena pertumbuhan jumlah penduduk Sulteng masih cukup tinggi. Hal itu bisa diliat Development Goals (MDGs) yang berada di posisi 125/100 ribu kelahiran hidup,” ungkap Abdullah Kemma.
Menurut data Dinas Kesehatan Kota Palu tahun 2017 pihaknya menargetkan menurunkan angka kematian hingga mecapai 100/100 ribu kelahiran hidup.
Tingginya kematian ibu dipengaruhi oleh meningkatkan hipertensi dalam kehamilan ibu, yang menyebabkan tensi ibu hamil naik.
“Naiknya hipertensi menyebabkan kematian ibu. Hal ini di pengaruhi oleh lingkungan atau faktor rumah tangga, serta stres ibu yang tinggi,” katanya.
Dengan sosialisasi tersebut diharapkan mampu mengintensifkan program tersebut agar mencapai cakupan peserta KB di Indonesia lebih tinggi lagi. Khususnya peserta KB yang memakai alat kontrasepsi jangka panjang.
“Untuk penggunaan kontrasepsi secara nasional memang terus meningkat. Kita memang mengejar lebih tinggi lagi. Tahun ini meningkat 17 persen, tahun lalu 14 persen,” ucapnya.
Menurut Abdullah, setiap tiga jam sekali, terjadi kematian ibu melahirkan.
Dengan sosialisasi ini, pihaknya berupaya menyiapkan keluarga remaja dan kaum muda untuk menjadi generasi emas, dengan pola hidup sehat, dan kompetitif di dalam lingkungan.
REDAKTUR : NILAWATI

