Palu. Portalsulawesi.Id.- Keberadaan satwa langka yang dilindungi negara di Kawasan Konservasi Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) semakin menyusut jumlahnya, bahkan telah terancam punah.
Balai Konservasi Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) merupakan salah satu Taman Nasional di Sulawesi yang menjadi perlindungan Hayati dan satwa yang dilindungi.
Hal ini dibenarkan oleh Kepala Balai Taman Nasional Lore Lindu , menurutnya penurunan populasi Anoa di wilayah hutan konservasi ini disebabkan banyak hal.
Salah satunya adalah faktor perburuan liar yang dilakukan masyarakat sekitar kawasan , sehingga habitat langka tersebut terganggu.
“terkait penurunannya populasi yang pasti penyebabnya dari manusia, ada jerat , ada berburu dengan menggunakan senapan , ada yang di sungai bawa tuva dengan mengangkap ikan jadi bukan cuman Mamalia saja yang terancam tapi juga ikan, kodok” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan Balai Konservasi Taman Nasional Lore lindu (TNLL), ada 25 Spesies prioritas yang terancam punah, tiga diantaranya menjadi fokus penanangannya adalah babi rusa ( Babyrousa ), Anoa (Bubalus sp.) serta Maleo (Macrocephalon maleo ).
Kepala Balai Taman Nasinal Lore Lindu, Ir Jusman kepada portalsulawesi menjelaskan Berdasarkan hasil pemantauan saitmonitoring dengan metode sampling dari TNLL , mereka menetapkan sebanyak 25 spesies prioritas yang terancam punah di sulteng dan ada 3 jenis spesies yang menjadi prioritas tersebut berada di dalam TNLL menjadi fokus penanganan, ada pun 3 spesias yang penjadi fokus penangana di TNLL seperti babi rusa Anoa, dan Maleo
“Dari 25 spesies prioritas itu ada 3 jenis yang ada di dalam kawasan taman nasional rore lindu, jadi 3 spesies prioritas itu ada anoa, babi rusa, maleo ” Ungkapnya.
Terkhusus Spesies Anoa, sejak tahun 2013 hingga Tahun 2019 terjadi penurunan Populasi .
Berdasarka Data dari BTNLL, Pada tahun 2013 populasi Anoa terdata 77 ekor , tahun 2014 populasi Anoa naik menjadi 102 ekor atau 32.47 %, tahun 2015 populasi Anoa menurun hingga mencapai 71 ekor atau Minus 7.79 %, tahun 2016 populasi Anoa tinggal 36 ekor atau Minus
53.25 %, pada tahun 2017 populasi Anoa turun hingga 14 ekor atau Minus 81.82 %, tahun 2018 populasi anoa terdata hanya mencapai 10 ekor atau Minus 87.01 %, tahun 2019 populasi Anoa mengalami peningkatan dengan terpantaunya 24 ekor atau Minus 68.83 % .
Terkait upaya pelestarian bagi hewan edemik yang terancam punah oleh pemerintah, diakui Jusman bahwa belum ada anggaran yang di alokasikan khusus untuk itu.
“Sejauh ini, Sulawesi Tengah belum ada tempat khusus untuk penangkaran , jika itu di mungkinkan sepanjang memenuhi syarat itu akan lebih lebih baik jika satwa seperti anoa yang cuman ada di sulawesi saja dibuatkan khusus, tentunya itu butuh alokasi anggaran , butuh dukungan dari semua pihak harus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui dukungan program” jelasnya.
“Karena sejauh ini belum ada anggaran alokasi khusus untuk pelestarian jenis tertentu ” kata jusman saat ditemui dikantornya, Jumat (16/10/2020).

Menurut Kabalai, pihaknya hanya mendapat porsi Anggaran Rp.25 Milyar pertahunnya. Pihaknya hanya bisa membiayai Gaji Pegawai serta Patroli rutin dilapangan.
“Anggaran kami terbatas , kami hanya bisa membayar gaji pegawai serta membiayai patroli rutin dilapangan ” katanya.***
Penulis : Arie /M.Refoldi
Editor : Heru

