Mewakili Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL), Ir. Periskila Sampeliling, MSi mengajak para kades untuk berpartisipasi dalam memberantas penularan penyakit schistosomiasis, pada rapat di balai desa Tuare, Kecamatan Lore Barat, kabupaten Poso.(foto:nila)
POSO portalsulawesi.id – Dalam rangka kegiatan survey ke area fokus Schistosoma di area kawasan Taman Nasional Lore Lindu, pihak Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL)melakukan kerjasama dengan Litbang-Kes dan Pemda setempat. Sinergitas program ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat kita yang hidup di area fokus schistosoma terutama yang ada di dataran tinggi Bada, Napu dan Lindu.
Untuk mengcover ketiga daerah tersebut, pihak Balai membagi tim dalam tiga kelompok agar bisa menjangkau ketiga wilayah yang selama ini menjadi fokus schistosoma.
Pada kegiatan ini, khusus untuk tim 3 atau tim bada, dipandu langsung oleh Kabag TU, Ir. Periskila Sampeliling, MSi,sekaligus mewakili Kepala BBTNLL, saat ini tengah melakukan penelusuran ke area fokus schistosoma dengan menyasar di Empat Desa yang menjadi fokus schistosoma. Namun sebelum turun ke lapangan, pihaknya mengadakan pertemuan dengan masyarakat dan menghadirkan empat kepala desa yang ada di daerah lembah Bada, Kecamatan Lore Barat.
Dimana pertemuan itu merupakan salah satu pengantar atau bimbingan sebelum melakukan survei ke tempat-tempat yang terindikasi ada habitat Schistosoma khususnya yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Karena hal ini akan mengancam eksistensi kawasan. Sehingga diperlukan adanya upaya yang sistematis dan terintegrasi dalam rangka mewujudkan kelestarian kawasan TNLL terutama dalam menekan tingkat infeksi atau penularan penyakit Schistosomiasis pada masyarakat khususnya.
Dalam pertemuan inipula, Periskila menyampaikan beberapa hal penting terkait bagaimana peran serta masyarakat dalam memerangi penyebaran penyakit Schistosomiasis. Terutama para kepala Desa yang harus pro aktip dalam menindaklanjuti titik-titik fokus keberadaan keong Schistosoma. “Saya harap empat kepala desa yang ada di wilayah Lore Barat ini, untuk lebih pro aktip dalam memberantas penyebaran penyakit Schistosomiasis. Karena hampir disetiap desa yang ada di Lore barat ini ditemukan ada fokus-fokus schistosoma. Jadi ini kita carikan solusinya agar bagaimana tempat atau fokus schistosoma ini kita punahkan dengan mematahkan mata rantainya agar tidak menebar ke manusia ataupun menebar ke hewan yang bisa mengancam keselamatan manusia,” kata Periskila yang menghimbau kepada petugas polisi kehutanan (polhut) binaan TNLL untuk memasang papan peringatan ditempat atau di fokus yang terindikasi ada kehidupan keong schistosoma.
Empat orang Kades dari Kecamatan Lore Barat, sangat mengapresiasi kegiatan survei ini karena mereka dilibatkan langsung dan diminta untuk memberikan rekomendasi terhadap hasil survei fokus schistosoma yang ada di desa mereka. (foto:nila)
Perlu diketahui bahwa kegiatan survey yang dilakukan oleh pihak BBTNLL bekerjasama dengan Litbang-Kes dalam rangka penelitian fokus schistosoma di area kawasan TNLL, atas inisiasi dari tiga kementrian, yakni kementrian lingkungan hidup dan kehutanan, kementrian kesehatan, kementrian PU dan Bappenas. Kegiatan kali ini mendapat respon yang sangat positip dari para kepala desa yang meminta untuk dilibatkan langsung dalam kegiatan survey fokus schistosoma. “ kami ingin kegiatan kali ini bukan hanya sebatas penelitian saja tapi kami sangat mengharapkan ada tindak lanjutnya agar program ini tetap berkesinambungan sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat desa agar bisa terbebas dari penyakit schistosomiasis. Diisi lain Pemerintah daerah provinsi Sulawesi Tengah dalam hal ini gubernur terus berupaya menekan prevalensi penularan penyakit schistosomiasis sehingga dicapailah sebuah kesepakatan yang menjadi harapan kita bersama dalam mewujudkan target bahwa di tahun 2025 sudah tidak ada lagi schistosomiasis di Sulawesi Tengah.
REDAKTUR : NILAWATI