Donggala,Portalsulawesi.id – Bantuan sepuluh ekor sapi betina kepada Kelompok Maranti di Desa Salubomba, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, diarahkan bukan sekadar untuk menambah populasi ternak. Bantuan tersebut diharapkan menjadi aset produktif yang mampu berkembang sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar kelompok penerima.
Sepuluh sapi betina itu memiliki nilai strategis karena dapat dikembangkan melalui pembiakan. Jika dikelola secara kolektif dan berkelanjutan, ternak tidak berhenti sebagai aset yang dipelihara, tetapi dapat berkembang menjadi investasi jangka panjang. Pertambahan populasi ternak diharapkan ikut meningkatkan nilai aset kelompok dan membuka peluang tambahan pendapatan bagi anggotanya.
Bantuan tersebut bermula dari aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. H. Musliman, MM, saat melaksanakan reses di Desa Salubomba. Kebutuhan masyarakat kemudian dihimpun dan diperjuangkan melalui mekanisme pengusulan program hingga terealisasi dalam bentuk sepuluh ekor sapi betina untuk Kelompok Maranti.
Ir.,H.Musliman.,MM mengatakan Realisasi itu memperlihatkan bahwa reses tidak berhenti pada agenda penyerapan aspirasi. Masukan masyarakat dapat menjadi dasar pengusulan program yang menyentuh kebutuhan riil warga. Ketika dikelola secara produktif, bantuan ternak berpotensi memberi dampak yang lebih luas daripada sekadar manfaat bagi kelompok penerima. Selasa(25/08/2026).
Asas manfaat juga dapat dirasakan petani jagung dan pisang di Desa Salubomba. Batang pisang maupun sisa tanaman jagung yang selama ini berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan setelah melalui pengolahan yang sesuai. Pola ini menciptakan hubungan saling menguntungkan antara sektor pertanian dan peternakan.
Bagi petani, pemanfaatan sisa tanaman membuka peluang untuk meningkatkan nilai guna hasil pertanian. Sementara bagi peternak, ketersediaan sumber pakan alternatif dapat membantu mendukung pemeliharaan sapi. Dengan demikian, bantuan ternak berpotensi membangun rantai nilai ekonomi lokal yang melibatkan lebih banyak warga, bukan hanya anggota kelompok penerima.
Pada akhirnya, keberhasilan program tidak semata diukur dari sepuluh ekor sapi yang diserahkan, tetapi dari kemampuan kelompok mengembangkan ternak menjadi aset produktif. Jika pembiakan berjalan baik, sumber pakan dapat dioptimalkan, dan hasil pertanian ikut terserap, bantuan tersebut berpeluang menciptakan efek berganda bagi ekonomi masyarakat Desa Salubomba—dari peternakan, pertanian, hingga peluang usaha warga di sekitarnya.(***)
Pewarta: Basrudin











