Palu, Portalsulawesi. Id – Jelang akhir tahun 2025, Jagat maya Sulteng geger pasca tumbangnya sebatang pohon depan rumah jabatan Gubernuran Siranindi 2 di jalan Prof. Moh. Yamin kota Palu. Melalui berbagai media, Anwar Hafid secara tegas meminta aparatnya mengusut siapa yang berani menebang pohon didepan rumah jabatannya.
Murka sang Gubernur diduga dipicu pihak yang melakukan penebangan tidak pamit saat mengeksekusi pohon jenis perdu, Balai Pelaksana Jalan Nasional ( BPJN) Sulteng diduga kuat sebagai eksekutor pohon tersebut kena imbas murka sang Gubernur.
Mengetahui pohon pelindung di depan rumah jabatannya ditebang, Anwar Hafid menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak bisa ditoleransi dan meminta agar pelaku segera dicari.
“Tolong cari siapa yang menebang pohon di depan rujab. Siapa pun pelakunya, apakah Balai Jalan, PLN, atau pihak mana pun, wajib mengganti. Ini tidak bisa ditoleransi,” tegas Anwar Hafid.
Hal berbeda ketika dua warga dikabarkan meregang nyawa saat tertimbun longsoran dilokasi pertambangan emas tanpa ijin di desa Lobu, kecamatan Moutong Kabupaten Parimo. Korban yang tewas tertimbun longsor dimana aktifitas penebangan hutan masif terjadi , hutan perawan diperkosa dengan alat berat dan ratusan pohon dibabat tanpa ijin demi berburu emas lepas.
Tidak tampak murka Anwar Hafid selaku gubernur Sulawesi Tengah terkait tragedi maut itu ,tidak ada siaran pers yang menyampaikan belasungkawa dari pemerintah kepada para keluarga korban. Bahkan, tidak ada perintah tegas sang Gubernur untuk mengusut penyebab longsoran seperti saat pohon didepan rumah jabatannya ditebang.
Sikap ini terkesan pilih kasih, ibarat cermin retak, respon publik pun berbeda arah.Tampak sekali jika masalah pohon yang ditebang didepan Rujab lebih berharga dibanding dengan ratusan pohon yang dibabat liar nan jauh di pelosok yang menyebabkan deforestasi hingga memakan korban nyawa warga.
Wawan (35), pemerhati lingkungan menilai sikap. Gubernur sebagai sikap apatis terhadap kerusakan lingkungan skala besar. Gestur dan sikapnya dalam menyikapi masalah lingkungan terkesan pencitraan belaka, hanya untuk dipuja nitizen medsos lewat framing para buzzer medianya.
” Kepedulian Anwar Hafid terhadap lingkungan hanyalah untuk pencitraan semata, masalah pohon satu beliau berang bukan main, ini ratusan pohon dibabat dilokasi PETI sampai ada korban, mana beliau mau buang statment? minimal ucapan duka selaku gubernurlah ” Sindirinya.
Menurutnya, kemungkinan karena lokasi pohon yang dibabat tidak didepan rumah jabatan makanya tidak penting untuk dikomentari.
” Pohon di Lobu dibabat terjadi longsor, gubernur acuh.. Karena mungkin pohonnya jauh dari Rujab, walau sudah ada korban karena longsoran Pungkasnya.
Dengan kondisi seperti ini, seharusnya gubernur memerintahkan jajarannya untuk mengusut tuntas siapa beking dan pemodal dilokasi PETI Lobu, agar kedepan tidak ada lagi korban berikutnya yang meregang nyawa diantara himpitan longsor.***
Pewarta: Heru












