Bahodopi,Portalsulawesi.Id- Sebuah arena perjudian sabung ayam terbesar di kecamatan Bahodopi beroperasi sejak lama, ratusan orang datang mengadu nasib mengadu peruntungan dengan taruhan nyawa ayam dan hunusan tajam taji ikat dikaki ayam aduan.
Penelusuran media ini berhasil mendapatkan Video ekslusif secara langsung terkait praktek perjudian di kabupaten penghasil nikel terbesar di Indonesia ini, ratusan orang bedesak desakan memasang taruhan untuk menghasilkan keuntungan disekitar arena tarung maut ayam pisau.
Teriakan semangat dan umpatan kekesalan berbaur dengan tetesan darah ayam aduan yang meregang nyawa dalam arena aduan, tidak kurang 30 pasang ayam taji turun digelanggang untuk diadu dalam seharinya.
Uang taruhan dari judi adu ayam pisau mencapai ratusan juta rupiah, bahkan konon kabarnya bisa mencapai milyaran rupiah dalam seharinya jika ada ayam legenda yang akan bertarung.
” Kalo baku undang ,biasanya taruhannya ratusan juta, ada kisaran sampai Rp.500 juta sekali main ,itu masih taruhan dalam gelanggang,belum taruhan diluar gelanggang ” ujar Mappe (36), pencinta ayam taji yang mengaku berasal dari desa Tarengge ,Luwu Timur.
Selain Mappe, ada pula Linus (47) yang juga memberikan informasi seputar judi ayam taji tersebut. ” Arena ini sudah lama ,aman ,tidak ada bisa digrebek karena bos besar pengelola Sabungan bagus hubungannya dengan aparat terutama dengan Polisi ” ungkap Linus , Minggu (09/08/2025) Saat diajak berbincang dilokasi arena.
Pantauan media ini dilapangan membuktikan apa yang dikatakan dua narasumber tadi benar adanya,lokasi yang berada di desa Bahomakmur digelar tidak jauh dari pemukiman warga berada diantara rimbunnya pohon kelapa sawit tampak ramai dengan kehadiran ratusan warga yang berasal dari berbagai daerah.
Dilokasi sabung ayam tersebut, sebuah bangunan sederhana beratap seng berdinding kawat ram transparan yang berada di tengah tengah bangunan lain beratap tenda plastik menjadi arena utama adu ayam pisau. Dalam ring adu tampak sejumlah pengelola dan pemilik ayam yang siap adu berhadap hadapan, taji pisau telah disematkan dikaki ayam taruhanpun dikumpulkan diwarnai sorak penyemangat kedua kelompok ayam yang tengah beradu.
Dari informasi yang dihimpun diarena sabung ayam diketahui bahwa dalam setiap sesi pertandingan, pasangan pemilik ayam aduan yang akan bertanding minimal bertaruh uang senilai Rp.5 juta persekali turun arena. ” Sekali main taruhannya 5 juta,ada cuknya Rp.500.000 per ayam,jadi sekali main pengelola menarik Cuk satu juta ” ujar salah seorang panitia pengelola.
Uang Cuk dikumpulkan panitia selama pertandingan, nilainya variatif tergantung besar taruhan. Makin besar taruhannya, makin besar pula Cuknya. Arena judi ketangkasan hewan ini digelar setiap hari, tetapi hari Sabtu dan Minggu merupakan hari yang dipastikan ramai pengunjung.
Uang Cuk itu dikumpul dan dikelola oleh panitia adu ayam, kabarnya dipakai untuk memperbaiki arena,gaji anggota panitia hingga membayar upeti keamanan. Uniknya ,upeti keamanan kabarnya mengalir hingga ke petinggi keamanan di institusi TNI dan Polri di Sulteng.
” Pengelola menyetor uang koordinasi mulai dari Polsek hingga Polda,begitu juga ke TNI ,mulai dari Koramil hingga Korem juga dapat ,bahkan LSM sama wartawan juga kami bagi ” ungkap salah seorang pengelola.

Diarena judi sabung ayam beromset ratusan juta tersebut, ada Bos pengelola arena yang disebut Bapak Kembar. Pria berperawakan atletis dengan percaya diri menyatakan usahanya mengelola judi sabung ayam telah diketahui aparat keamanan dan tidak bakal dibubarkan, hal ini dikarenakan dirinya konon rajin menyetor ke semua pos keamanan dengan nilai mencapai puluhan juta setiap bulannya.
” Bos menyetor uang koordinasi ke Polsek,polres hingga Polda, kalo Ndak salah ke Ditkrimum ,nilainya sekitar Rp.60 juta perbulan, begitu juga ke tentara…kami juga menyetor ,makanya aman maen disini ” celoteh salah satu pengelola anak buah Bos Bapak Kembar.
Bapak kembar,sebutan bos judi ayam pisau tersebut terkenal dekat dengan sejumlah pejabat keamanan. Hal ini menambah jumawah dirinya mengelola arena judi tersebut, bahkan ada beberapa oknum anggota aparat keamanan berpakaian preman nampak standby didalam arena inti judi ayam tersebut.
Selain menyetor uang koordinasi dengan aparat, pengelola judi ayam taji juga menyetor uang bulanan kesejumlah LSM dan wartawan. Beberapa nama media lokal dan wartawan disebut kerap mengambil jatah bulanan diarena tersebut, hal ini membuat pengelola semakin percaya diri kalau usaha judi ayam pisaunya aman terkendali. ” LSM dan media juga ada jatahnya disini, ada sekitar 10 media kami kondisikan untuk kerjasama ” jelas salah satu pengelola arena.
Upaya mengkonfirmasi pihak terkait yang disebutkan menerima uang koordinasi masih belum membuahkan hasil,hingga berita ini tayang.***
Pewarta : M.Yusuf/Her
Editor :Heru













