Donggala, Portalsulawesi.Id – Banjir bandang yang menimpa Desa Wombo Kalonggo Kecamatan Tanantovea Kabupaten Donggala pada Selasa (27/05/2025) menyisakan duka mendalam bagi ratusan warga disana, bencana berupa air bah datang pada pukul 15.30 memporak porandakan pemukiman penduduk didesa Wombo Kalonggo dan sebagian desa Wombo induk.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendata ada 50 rumah warga rusak , 100 Kepala Keluarga Mengungsi , sekolah baik TK,SD, SMP ,Madrasah hingga ternak warga ikut tersapu banjir. Bahkan ,dua warga dilaporkan hilang serta satu jembatan penghubung desa Wombo induk dan desa Wombo Kalonggo hilang diterjang banjir.
Akibatnya, akses jalan satu-satunya ke desa Wombo Kalonggo putus yang menyebabkan warga yang berada di desa tersebut terisolir. Timbunan material baik berupa sendimen pasir hingga batang pohon tampak memenuhi pemukiman, harta benda warga ikut terendam banjir yang membawa lumpur hingga mencapai ketebalan 50 cm.
Dari pantauan media ini, tampak tumpukan kayu berdiameter besar berserakan disekitar pemukiman warga. Kondisi ini memicu sejumlah spekulasi warga terkait aktivitas dugaan pembalakan liar yang akhir akhir ini marak terjadi, bahkan bukaan luasan tebangan hutan dipegunungan atas desa Wombo diakui warga sudah cukup luas.
” Ada pembukaan jalan kantong produksi diarea atas,tetapi kami liat ada pula oknum yang memainkan peran sebagai pengusaha kayu, kayu yang ada saat ini terbawa banjir dari lokasi diatas ” ungkap Namin (47) ,warga desa Wombo induk kepada media ini, Rabu (28/05/2025).

Warga bahkan menyebut nama Bos Cali sebagai salah seorang pemain kayu diwilayah hutan diatas desa Wombo, diduga aktivitas pembabatan hutan diatas desa tersebut mendapat restu dari pemerintah setempat.
” Bos Cali dengan anggotanya yang olah kayu diatas, modusnya buka jalan sambil tebang kayu ” ungkap sumber Anonim yang meminta namanya disamarkan.
Hal.yamg disampaikan warga diperkuat dengan adanya ratusan batang kayu Log yang terbawa banjir dari hulu sungai Wombo yang selama ini kering. Tumpukan kayu berdiameter sedang hingga besar tampak memenuhi alur sungai dan persawahan warga, sebagian bahkan menumpuk di pelataran sekolah yang terdampak Parah.
Arfan (57),Warga desa Wombo menyebutkan bahwa banjir yang terjadi didesanya ini merupakan banjir terburuk selama rentan waktu 50 tahun. ” Sejak saya lahir hingga sekarang,baru kali ini terjadi banjir seperti ini, tinggi air bahkan sekitar tiga meter dibadan sungai, itu batas air dipohon mangga sebagai bukti ketinggian air sore tadi ” ungkapnya sembari menunjukkan bekas sapuan banjir di pohon mangga yang berada tepat disamping sungai Wombo.
Pihak pemerintah setempat masih enggan berkomentar, beberapa warga bahkan menyebutkan jika takut bersuara karena kerap di intimidasi oleh oknum tertentu.
” Kalo kami protes terkait pembabatan hutan diatas, kami diancam dilaporkan ke polisi karena dianggap buat kegaduhan didesa ‘; ungkap NN, salah seorang tokoh pemuda disana.
Pagi ini,Rabu (28/05/2025) tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi jasad warga yang dinyatakan hilang sebelumnya yakni Ibu Ramsiyah (60), sementara itu ibu Rano (54) masih dinyatakan hilang dan dalam pencaharian tim gabungan. Jenasah korban ditemukan sekitar 500 meter dari lokasi kejadian ,saat ini jenasah telah diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan siang ini
Harapan masyarakat, penegak hukum dapat menindak lanjuti dugaan pembalakan liar disekitar hutan desa Wombo. Banjir yang terjadi Selasa sore kemarin diharapkan bisa menjadi pintu masuk untuk menyelidiki dan mendalami praktek ilegal yang dilakukan oknum pengusaha kayu yang dibungkus kegiatan pembukaan jalan baru.***
Pewarta : Mo Yusuf
Editor : Heru













