Palu,portalsulawesi.id- Nasib apes menimpa warga Sulawesi tengah asal kabupaten Donggala yang hendak pulang kampung dari Kalimantan Timur,akibat tidak punya uang untuk membayar Rapid test untuk syarat mutlak bepergian naik Kapal tujuan pelabuhan fery Taipa,Kota Palu akhirnya harus rela tidur mengelandang di pelataran ruang tunggu pelabuhan.
Rombongan kecil warga asal Sulteng dan Sulbar yang terlantar ini terdiri dari delapan orang dewasa dan tiga balita,mereka sebelumnya bekerja sebagai buruh kasar di HTI Pohon Kertas pada PT Hutani Jaya Sebulu SP 1 di wilayah Seberang Tenggarong,Kalimantan Timur.
Menurut Ismail (39)salah satu warga desa Tibo Kecamatan Sindue Tambusabora Kabupaten Donggala yang terlantar dipelabuhan Fery Kariango Balikpapan tersebut bahwa dirinya bersama rombongan telah menumpang tidur diruang tunggu pelabuhan sejak hari selasa (02/06/2020),
“Hampir seminggu kami disini menumpang tidur,kami tidak punya uang untuk bayar Rapid test dipelabuhan,kasihani kami le ” curhat Ismail kepada Portalsulawesi via aplikasi masangger,Sabtu (06/06/2020).
Biaya Rapid test yang mencapai Rp.500.000 per orang yang diberlakukan di Pelabuhan Kariango -Balikpapan membuat rombongan warga asal Sulawesi tengah dan Sulawesi Barat ini terlantar dipelabuhan,saat ini usaha mereka hanya meminta bantuan melalui media sosial.
Adapun data warga tersebut yang dikumpulkan redaksi Portalsulawesi diantaranya Ismail (39) warga Donggala dengan alamat KTP di Jalan Labuan Bajo,Banawa, Stevie,(42) warga Donggala dengan Alamat Jalan Tanjung Batu,Banawa Donggala,Ismail (31)Warga Desa Tibo,Kecamatan Tambusabora Kabupaten Donggala,
Sementara itu,rekan Ismail asal propinsi Sulawesi Barat ada lima orang ikut terlantar dikarenakan tidak memiliki uang untuk membayar Rapid test,mereka adalah warga asal Pasangkayu tepatnya Desa Sarudu serta warga kecamatan Tampapadang,Mamuju.
Diantara rombongan tersebut,ada tiga orang Balita yang harus menerima nasib tidur beralas tikar plastik dipelataran ruang tunggu Pelabuhan Fery Kariango-Balikpapan,Kalimantan Timur.
Saat ini rombongan kecil ini bertahan hidup dengan sisa bekal uang persediaan yang makin menipis,mereka berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah asal mereka untuk membantu memberikan solusi agar bisa pulang ke kampung halamannya kembali.
“Tolonglah rombongan kami,…kami tdk punya uang untuk melakukan rapid tes…sudah mau seminggu kami tinggal dipelabuhan ferry Kariango Balikpapan,..kami harap ada tanggapan pemerintah dikota Palu,,, tolonglah pak gubernur atau walikota kami sei warganya komiu ranga,,,, bantulah kami biar kami BS pulang ke palu.” Tulis ismail diakun Moh.Ismail pada laman facebook yang dibagikan kebeberapa akun medsos.***
Penulis : Heru













