Donggala,Portalsulawesi.id- Krisis perlindungan lahan pertanian menghantui warga Desa Kola-Kola, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Abrasi sungai yang terus menggerus tebing persawahan dinilai terjadi di tengah lambannya respons pemerintah, sehingga mengancam keberlangsungan mata pencaharian sedikitnya 40 kepala keluarga.
Sekitar 200 meter tebing persawahan dilaporkan mengalami degradasi serius. Dari total sekitar 15 hektare lahan produktif, sedikitnya 3 hektare telah hilang sejak 2023. Kerusakan yang berlangsung progresif ini menjadi alarm bagi keberlanjutan ekonomi warga yang bergantung pada sektor pertanian.
“Sawah kami terus tergerus sejak 2023. Sampai sekarang belum ada penanganan nyata,” kata Hairil, salah seorang petani, saat ditemui di lokasi, Ia menilai, tanpa intervensi teknis seperti penguatan tebing atau normalisasi aliran sungai, sisa lahan yang ada berisiko hilang dalam waktu dekat.
Warga menilai kondisi ini berbanding terbalik dengan masifnya narasi ketahanan pangan yang digulirkan pemerintah pusat. Mereka mendesak pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan lahan pertanian yang tersisa.
Kepala Desa Kola-Kola, Rais Ambo Adjo, mengatakan pihaknya telah berulang kali mengajukan usulan penanganan melalui proposal dan forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). “Sudah kami sampaikan di berbagai forum, tetapi belum ada realisasi,” ujarnya.(06/04/2026)
Ia mengingatkan, jika abrasi terus dibiarkan tanpa penanganan serius, dampaknya tidak hanya pada hilangnya mata pencaharian warga, tetapi juga berpotensi menggagalkan target ketahanan pangan di tingkat desa.(***)
Pewarta : Basrudin











